Bank Mandiri Bank Terbaik di Indonesia

Kalau Anda mengikuti perjalanan perbankan di Indonesia, pasti tidak heran jika Bank Mandiri Bank Terbaik di Indonesia. Itu karena lembaga keuangan ini telah menuai banyak penghargaan atas kinerjanya selama ini. Pada 18 Desember 2012, Bank Mandiri mendapat perhargaan lagi dari SWAnetwork dan WIN Solution sebagai  Indonesia Best Corporate Transformation. Keesokan harinya Indonesian Institute for Corporate Governance (IICG) dan SWA menobatkan bank yang lahir pada Oktober 1998 ini sebagai Perusahaan Paling Terpercaya.

Tentu saja hal tersebut bukan diraih dengan hanya membalikkan telapak tangan. Sejak merger pada Juli 1999 yang melebur empat Bank Pemerintah (Bank Bumi Daya, Bank Dagang Negara, Bank Exim, dan Bapindo) Bank Mandiri segera tancap gas mengejar senior-seniornya yang telah lama lahir. Kini Bank Mandiri telah masuk jajaran Bank terbesar di Indonesia dengan kapitasilitasi pasar mencapai US$17,6 miliar atau setara dengan. Sungguh capaian luar biasa!


Lantas kita bertanya, mengapa Bank Mandiri Bank Terbaik di Indonesia. ini memang menyangkut faktor internal dan eksternal bank berlogo gelombang emas cair ini. Faktor internalnya adalah mengubah dan menjalankan corporate culture (budaya perusahaan) dengan komitmen tinggi. Adapun corporate culture yang baru adalah kepercayaan,integritas, profesional, fokus pada pelanggan, dan kesempunaan. Faktor eksternalnya yakni tuntutan stakeholder untuk menjadi bank terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara.



Bank Mandiri kemudian bertekad untuk membangun hubungan jangka panjang yang didasari atas kepercayaan baik dengan nasabah bisnis maupun perseorangan. Pelayanan terhadap seluruh nasabah menggunakan standar layanan internasional melalui penyediaan solusi keuangan yang inovatif. Bank Mandiri ingin dikenal karena kinerja, sumber daya manusia, dan kerjasama tim yang terbaik. Bank Mandiri Bank Terbaik di Indonesia, harus menjadi mantra setiap orang. Sebab kata mengubah dunia. 


Sejak saat itu kemajuan Bank Mandiri melesat bak anak panah. Laba bersih terus meningkat tajam. Bisa disimak nilai keuntungan yang dihasilkan dari 2005 hingga kuartal III 2012 yakni Rp 0.6 triliun, Rp 2,4 teriliun, Rp 4,3 triliun, Rp 5,3 triliun, Rp 7,2 triliun, Rp 9,2 triliun, Rp 12,2 triliun, dan Rp 11,1 triliun.


Prestasi Bank Mandiri pun kian bersinar baik dari aset, pinjaman dan deposito. Aset Bank Mandiri di Desember 2011 mencapai Rp 551,9 Triliun, kreditnya juga tumbuh menjadi Rp 314,4 Triliun,  dan dana depositonya terbesar di Indonesia sebesar Rp 422,3 Triliun. Maka tak pelak lagi Bank Mandiri Bank Terbaik di Indonesia.


Begitu pula dengan nilai saham terus menanjak. Memang,  pada penghujung 2005 saham Bank Mandiri sempat anjlok ke level Rp 1.100 per lembar. Namun pada 10 Agustus 2012, harga saham bank  dengan motto mencapai Rp 8.359 dengan kapitalisasi pasar Rp 194,04 triliun. Nilai kapitalisasi pasar Bank Mandiri meningkat hampir 9 kali dalam tujuh tahun terakhir. Tentu ini kesuksesan besar.


Bank Mandiri juga melakukan investasi dan pengembangan di bidang teknologi informasi. Tujuannya agar setiap nasabah mendapat kemudahan dalam bertransaksi, baik di wilayah Indonesia maupun di luar negeri. Selain itu bank yang menggunakan warna biru dan kuning pada logonya ini membutuhkan sistem yang online, real time dan fleksibel. 


Belum lagi jaringan distribusi Bank Mandiri yang tersebar di 3.186 ATMandiri, 7.051 ATM LINK, dan 12,663 ATM Bersama. Untuk memanjakan para pengguna kartu kredit, Bank Mandiri juga menyalurkan Mesin EDC (Electronic Data Capture) sebanyak 25.254 di seluruh Indonesia. Untuk  mengukuhkan sebagai bank terbaik di Indonesia, Bank Mandiri meluaskan jangkauannya ke berbagai kota di negara lain di antaranya Cayman Islands, Shanghai, Hongkong, Singapura, Dili, London, dan Kuala Lumpur.


Dari tulisan di atas pasti Anda kemudian setuju dan mengangguk-angguk bahwa Bank Mandiri Bank Terbaik di Indonesia.


Referensi :
1. www.bankmandiri.co.id
2. www.beritasatu.com
3. www.infobanknews.com
4. www.swa.co.id
5. www.mercubuana.ac.id


Cinta, Pengorbanan, dan Kesetiaan

Sudahkah Anda menonton Film Habibie & Ainun? Kalau belum Anda perlu membaca review ini agar makin penasaran untuk segera menontonnya atau membaca bukunya dengan judul sama. Yang paling bagus tentu melakukan kedua-duanya, menonton film dan membaca bukunya. 

Habibie & Ainun mengisahkan tentang perjalanan dua insan yang bertemu dan jatuh cinta hingga berpisah karena kematian.Kisah ini diterjemahkan dengan apik oleh Hanung Bramantyo, seorang sutradara yang terkenal lewat Film Ayat-Ayat Cinta. 

Fim ini dimulai dengan pertemuan antara Rudi Habibie dan Ainun. Habibie begitu terpesona dengan kecantikan Ainun yang dulunya disebut gula jawa. Hingga terlontar kata dari mulut Habibie, "Gula Jawa sekarang jadi gula pasir." Sejak itu Habibie dan Ainun tak terpisahkan selama 48 tahun 10 hari. 

Habibie diperankan oleh Reza Rahardian Matulessy, seorang aktor berbakat kelahiran Jakarta, 5 Maret 1987. Ia memulai karir di dunia entertainment dengan menjadi model. Selanjutnya, ia membintangi beberapa film dan lewat Film Perempuan Berkalung Sorban, ia meraih Piala Citra 2009 untuk kategori Pemeran Pendukung Pria Terbaik. Pada tahun berikutnya, ia dihadiahi Piala Citra untuk kategori pemeran Utama Pria Terbaik lewat film 3 Hati Dua Dunia, Satu Cinta. 

Untuk peran Ainun terpilih Bunga Citra Lestari yang sering disebut BCL. BCL harus bersaing dengan beberapa artis lainnya untuk mendapatkan peran ibu negara ini. Selain bermain sebagai Ainun, BCL juga menyanyikan original sound track film ini dengan judul Cinta Sejati. Lagu ini diciptakan oleh Melly Goeslaw yang memang piawai sebagai hitsmaker

Film Habibie & Ainun cukup banyak memuat pembelajaran. Habibie menunjukkan kesederhanaan dan apa adanya meskipun dia seorang yang brilian. Kesederhanaan inilah mungkin yang membuat Ainun menjatuhkan pilihan pada pria yang kemudian dijuluki Mr Crack. Pembelajaran lainnya yang bisa dipetik adalah seorang istri rela berkorban demi suami, begitu pula suami yang mengasihi istri hingga akhir hayat. 

Sebagai informasi saja, Habibie menerbitkan buku ini sebagai bagian dari terapinya setelah ditinggal Ainun. Berhari-hari setelah kekasihnya pergi untuk selamanya, Habibie berhalusinasi tentang Ainun. Ia merasa Ainun masih ada di sampingnya dan berusaha mencari-cari keberadaan orang yang dicintainya ini. Tim dokter dari Indonesia dan Jerman yang terus memantau perkembangan Habibie berpendapat harus dilakukan sesuatu untuk menolong Presiden RI ke-3 ini. 

Tim dokter lantas memberikan tiga pilihan kepada Habibie agar ia bisa melanjutkan hidupnya kembali.Pertama, Ia harus dirawat di rumah sakit secara intensif sampai ia sembuh. Pilihan ini menyatakan bahwa Habibie sudah gila dan mesti menjalani perawatan serius. Kedua, Habibie akan tinggal di rumah namun tim dokter akan memantau, mengunjungi, dan berkonsultasi dengannya setiap saat. Pilihan kedua ini juga mengartikan ia sudah tidak waras dan harus diberi perhatian khusus. Ketiga, ia disuruh menuliskan apa saja mengenai Ainun seakan-akan Ainun masih hidup dan mendampinginya setiap waktu. Pilihan ketiga inilah yang dilakukan Habibie hingga melahirkan film paling fenomenal. 

Akhirnya ada yang membuktikan bahwa menulis merupakan obat. Ia merupakan obat mujarab yang paling manjur di seluruh dunia. Ia bisa menjadi penawar bagi racun yang mematikan sekali pun. Apalagi jika ditulis dengan hati dan jiwa yang tulus. Tak terelakkan lagi menulis menjelma obat paten yang tak tersedia di apotek mana pun.

Gita, Saya dan Nasi

Membaca rubrik wawancara di Majalah Tempo edisi minggu ini, sungguh luar biasa. Tempo menurunkan wawancaranya bersama seorang menteri hasil reshuffle kabinet Indonesia Bersatu II  Oktober 2011. Dialah Gita Wirjayan, sang Menteri Perdagangan yang baru menggantikan Marie Elka Pangestu yang diorbitkan menjadi Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Publik saat itu agak terkejut dengan munculnya nama Gita, meski dia bukan orang baru dalam dunia usaha. Karir dan usahanya cukup mengangkat namanya, terutama saat ia menjadi Direktur Utama di JP Morgan (2006). Dua tahun kemudian ia keluar dari perusahaan yang bergerak di bidang finansial itu dan mendirikan Ancora Capital. Sepertinya istana tertarik dengan sepak terjang dan mengangkatnya menjadi Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal pada tahun 2009.

Saya tertarik dengan pria yang mengecap pendidikan di Harvard University ini bukan karena loncatan karirnya yang luar biasa. Komentar-komentarnya di media cetak dan elektronik cukup menghentak. Yang terbaru misalnya di Tempo, ia berkata, ”Jika hari ini 240 juta orang Indonesia mulai mengganti akan malamnya dengan singkong, hari ini juga kita beralih dari pengimpor menjadi pengekspor beras”. Menurutnya pola makan malam dan pagi tanpa nasi sudah dipraktikkannya sejak lama. Ia menggantinya dengan makan ubi dan singkong! Dear Minister, are you kidding me?

Saya belum mau mempercayai ucapannya. Gampang saja bagi seorang Menteri tak menyantap nasi di kala pagi dan malam. Namun menggantinya dengan ubi dan singkong, kok sepertinya nggak mungkin. Lebih masuk akal kalau sarapan dengan sereal gandum atau roti dan malam makan salad buah atau steak. Ah, tapi kali ini saya tak hendak membahas menu makanan menteri. Lebih elok jika membahas apa yang dimakan oleh rakyat banyak.

Bagi saya pribadi nasi menjadi menu yang istimewa. Keluarga saya terbiasa menikmatinya tiga kali sehari. Nasi cukup fleksibel karena bisa dikombinasikan dengan menu apapun, sayur, ikan, daging, dan telur. Kalau tak ada apapun masih bisa di sajikan dengan garam dan minyak jelantah.
   
Beras sudah dikonsumsi oleh rakyat Indonesia sejak berpuluh abad yang lalu. Nenek moyang kita yang berasal dari Yunan atau Hindia Belakang membawa benih padi dan menanamnya dan kemudian dibudidayakan turun-temurun hingga kini. Lidah kita pun cukup familiar dengan nasi. Nasi kita jadikan makanan pokok untuk mengisi kebutuhan karbohidrat kita. Pagi, siang dan malam hampir setiap orang Indonesia dan setengah penduduk bumi memerlukan hidangan nasi di meja makannya.

Begitulah, beras menjadi komoditas yang paling dicari. Negeri-negeri penghasil beras berusaha meningkatkan hasilnya dengan menggunakan berbagai cara. Segala macam penelitian dilakukan untuk meningkatkan hasil si butir putih ini. Bahkan dengan cara-cara aneh dengan mencampurkan beragam gen yang benihnya sering disebut transgenik. 

Kalau kemudian Pak Menteri meminta kita untuk mengganti nasi dengan menu yang lain terutama ubi dan singkong, saya kira ada 11 yang akan menolak dari 10 orang. Kenapa 11? Karena ada satu orang yang mengangkat dua tangannya untuk menunjukkan penolakannya. Hehehe… hanya bercanda. Tapi begitulah faktanya, sulit menukar kebiasaan yang sudah tertanam di otak dan hati.

Seandainya Pak Menteri sempat menyaksikan televisi sesekali maka akan jelas bahwa banyak penduduk di Indonesia mengkonsumsi selain nasi sebagai makanan utamanya. Bukan karena mereka dengan sengaja dan sukarela mengikuti wejangan para pejabat pemerintahan, namun karena tak sanggup membeli beras. Lebih murah makan tiwul, jagung, nasi aking dan sebagainya. Seharusnya masyarakat ini yang menjadi perhatian lebih.

Pak Menteri,  andai saja Anda tahu nasi itu bukan cuma pengisi perut. Rice is life, culture, and dignity. Pada nasi ada alur kehidupan, budaya dan martabat. Seharusnya sebagai bangsa yang besar kita harus meneruskan alur kehidupan, mempertahankan budaya dan berusaha memperjuangkan martabat kita. Nasi mengandung sejuta makna, dari proses prokduksi, distribusi, sampai konsumsi. Memproduksinya akan menimbulkan harmonisasi, interaksi dan toleransi. Ada peran begitu banyak pihak untuk mengantarkan sampai ke konsumen. Pada saat menyantapnya ada kehangatan dan keakraban.

Sesungguhnya mengganti nasi dengan makanan lain seperti mengganti budaya. Ekstrimnya lagi seperti berpindah agama. Saya tidak pernah berpikir untuk melakukannya. Entah dengan Anda, Pak Menteri!

Januari, 2012

Durian dan Lhoong

Kali ini musim durian. Tentu saja tak saya sia-siakan ajakan teman untuk makan durian langsung dari pohonnya. Fresh from the oven. Ini pengalaman yang akan mengesankan dan menggembirakan. Sudah terbayang di otak saya bagaimana dahsyatnya perjalanan ini.

Pukul 17.00 Wib kami bergegas menuju sasaran, yakni kebun durian. Kebun durian ini milik salah seorang Keuchik di Gampong Geuntet,Kecamatan Lhoong, Kabupaten Aceh Besar. Hanya sekitar 50 km dari kota Banda Aceh. Jika bermobil dengan kecepatan sedang, satu jam sudah berada di Lhoong.

Lhoong adalah daerah yang begitu eksotik. Lokasinya diapit oleh gunung dan lautan, sehingga penduduknya memiliki mata pencaharian sebagai petani dan nelayan.  Lhoong juga memiliki air terjun yang cukup indah. Suhom namanya, airnya sejuk dan menyegarkan.

Barang siapa yang memiliki hobi hiking, memancing, berenang, berpetualang atau berkemah maka Lhoong adalah destinasi yang tepat. Anda akan dimanjakan dengan keindahan alamnya dan juga kearamahan penduduknya. Bukan tak mungkin Anda akan lupa pulang.

Kembali ke soal durian, Lhoong cukup terkenal dengan buah berkulit duri ini. Cita rasa durian Lhoong berbeda dengan cita rasa durian dari seantero Aceh. Pada musimnya Lhoong menjadi pusatnya durian dan ramai oleh transaksi jual beli durian.

Setelah istirahat dan makan, saya plus lima teman kemudian menuju kebun durian. Kami melewati sawah, kebun, sungai, dan hutan dalam gelapnya malam. Jalanya lebih banyak mendaki dari pada mendatar. Turunan hanya sesekali. Alhasil napas dan jantung saya berlomba dengan detak jarum jam. Beberapa kali saya sempat berhenti . 

Sesampai di gubuk saya sudah sangat kelelahan. Baju dan sweater saya telah basah oleh keringat. Saya istirahat sementara teman yang lain memunguti durian yang telah runtuh sebelum kami tiba. Ada sekitar 6 buah durian yang kemudian dibelah dan dinikmati. Kami memang tiba di penghujung musim.

Paginya kami menemukan sekitar 10 buah durian lagi. Kami segera membawanya pulang karena salah seorang teman akan bepergian jauh. Jalan pulang lebih mudah karena banyak turunan dan lebih terang. Energi tak terkuras. Kami pun lebih banyak bersantai. 

Hari ini kami kurang beruntung. Kelak, saat musin durian tiba tahun depan, dan bunganya mulai mekar, kami akan menyiapkan diri, fisik dan  --tentu saja-- perut untuk menyantapnya. Tunggu saja, Lhoong! 
 
Banda Aceh,  Desember 2011

Kopi: Rasa, View, dan Pengunjung

Menjual kopi di Banda Aceh bukan lagi sekedar rasa. Butuh kemampuan lebih dan khusus dalam menjajakan si hitam manis ini. Apalagi dengan semakin bertaburnya puluhan warung kopi di Ibukota Propinsi Aceh.

Ada beberapa warung kopi yang didesain semenarik mungkin mulai dari pemilihan meja, kursi, dan ornamen lainnya. Ditambahi pula televisi berlayar lebar dan koneksi internet. Ada pula yang tetap setia dengan kondisi seadanya, tak berubah dari tahun ke tahun. Kedainya hanya mengandalkan pelanggan setia pada rasa dan mutu. Bahkan ada pelanggan yang tak mau minum jika pembuat kopi bukan yang biasanya.

Di antara sekian banyak warung kopi ada yang sangat memperhatikan view. Hal ini menjadi mutlak dan menjadi cara menjual kopi yang berbeda dengan warung kopi lainnya. Ada yang mengambil view pegugungan dan persawahan. Warung kopi ini hanya mungkin bila berada di pinggiran kota. Ada pula yang menjadikan sungai sebagai daya tariknya. Aliran air bagaimanapun akan menjadikan magnet tersendiri bagi pengunjung. Lalu lintas kendaraan pun ikut digunakan sebagai pemikat agar pengunjung betah dan setia berada di warungnya.

Begitulah, warung kopi dengan segala taktik dan strateginya membius pelanggan agar mau menghabiskan waktunya dan berlama-lama di sana. Titik akhir yang dihrap pemilik warung kopi adalah keuntungan yang melaut dan menggunung. Bagi pelanggan kebutuhan akan kopi semkain dimanjakan dengan pemandangan, gaya hidup, media dan informasi, hiburan, dan kuliner.

Simbiosis mutualisme pun terjalin dalam jangka panjang. Tidak ada kontrak tetulis, yang ada hanya keterikatan secara otomatis antara penyedia jasa dan barang dengan pembeli jasa dan barang. Tanpa perlu panitia tender.

Apapun, Anda sebagai penikmat kopi adalah rajanya. Asal jangan jadi raja yang lalim.

Kisah Tiga Anggota DPR

Tiga anggota DPR dari negeri berbeda bertemu di sebuah konferensi internasional. Ketiganya berbincang mengenai kondisi petani di wilayahnya masing-masing. Anggota DPR dari Thailand menyebutkan dengan bangga petaninya cukup sukses karena penguasanya mensubsidi pupuk dan pestisida. Tak mau kalah, anggota DPR dari China mengatakan petaninys cukup sejahtera sebab pengusahanya menjamin harga produk pertanian. Akhirnya, anggota DPR Aceh pun berujar, "Jika pemerintah mensubsidi pupuk dan menjamin harga produk pertanian, lantas siapa yang mensubsidi cicilan rumah dan menjamin kredit mobil saya?"

Mengapa Petani Miskin

Di sebuah seminar tentang pemberdayaan petani, salah seorang peserta bertanya, "Pak, mengapa dari dulu hingga sekarang petani miskin terus, padahal cukup banyak anggaran untuk pemberdayaan petani." Narasumber lantas menjawab, "Itulah kenapa seminar seperti ini terus dibuat, karena sebenarnya kita tidak pernah tahu jawabannya.